Beberapa bulan tinggal di Jepang, salah satu pelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa kecanggihan teknologi itu hanya alat bantu. Ke-’canggih’-an sumber daya manusia lah yang lebih menentukan kemajuan suatu negara. Saya bisa bilang bahwa hampir semua teknologi yang digunakan di sini tidak terlalu sophisticated. Malahan mungkin bagi sebagian orang Indonesia, berada di jalanan Jepang akan membuat mereka berpikir bahwa sebagian benda-benda yang ada di sana, di Indonesia sudah jadi barang purbakala. Sebut saja telepon umum, misalnya. Atau motor honda bebek tahun 70 yang masih lazim digunakan untuk public service seperti pak pos.

Hal ini merupakah salah satu yang membuat saya berpendapat bahwa pengembangan SDM sangatlah penting. Dan salah satu aspek pengembangan SDM tentu saja adalah melalu pendidikan. Di artikel saya kali ini, mungkin tidak terlalu ada hubungannya dengan teknologi Jepang tadi, mau sedikit mengupas aspek pendidikan di dalam keluarga. Meski di Indonesia sedang gonjang-ganjing kurikulum 2013 yang kacau balau (yg mungkin akan saya kupas juga di artikel yang lain), saya percaya pendidikan itu dimulai dari keluarga, dan tidak ada yang mengatur kurikulum pendidikan dalam keluarga selain keluarga itu sendiri.

Artikel di bawah ini terinspirasi studi yang dilakukan OECD. Program ini bernama PISA (Programme for International Student Assessment). Salah satu riset mereka menunjukan bahwa peran keluarga khususnya orang tua dalam pendidikan anak menunjukan perbedaan performa yang signifikan pada anak didik. Program ini merupakan riset di berbagai negara baik negara maju maupun berkembang, namun sayangnya untuk studi parent involvement ini, Indonesia belum dilibatkan. (dalam beberapa riset yang lain, misalnya kemampuan rata2 matematika dll, Indonesia dilibatkan, dan hasilnya mungkin ‘unexpected’, akan saya bahas di lain kesempatan). Riset ini dilakukan terhadap para pelajar di usia 15 tahun, dari berbagai latar belakang ekonomi (jadi untuk riset di satu negara juga melibatkan kelas bawah dan atas di negara tersebut), dan juga dilakukan wawancara terhadap orang tua mereka. Secara umum, PISA mengevaluasi kemampuan murid di beberapa aspek, misalnya reading dan matematika. Pada artikel ini, lebih difokuskan pada reading skill, yang secara umum berhubungan dengan linguistik skill, dimana menurut saya skill tersebut berperan sangat penting dalam ke’cerdas’an seseorang.

Sedikit disclaimer, pertama, saya bukan expert di bidang psikologi pendidikan. Saya hanya tertarik pada dunia pendidikan. Basic pendidikan saya Industrial Engineering dan Cognitive System Engineering. Kedua, hampir semua yang saya tulis di bawah ini diadaptasi dari hasil riset program PISA. Pada bagian yang mengandung pendapat saya secara pribadi, akan saya beri penjelasan misalnya dengan “menurut pendapat saya…” dll. Ketiga, mohon maaf kalau masih ada logika atau alur cerita yang mungkin tidak rapih, karena sedianya artikel ini bagi saya pribadi adalah sarana latihan menulis juga, dimana saya masih ‘belajar’.

  1. kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak atau menyanyikan lagu anak atau kegiatan linguistik lainnya dari sejak kecil, menunjukkan perbedaan cukup signifikan pada reading test mereka di usia 15. Ketika anak sudah bisa berkomunikasi secara verbal, kegiatan berkomunikasi melalui percakapan, misalnya menanyakan kegiatan anak hari itu dan menceritakan apa yang dilakukan orang tua juga memberi pengaruh signifikan kelak. Membiasakan percakapan melatih anak berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, melatih mereka untuk menyusun pemikiran mereka secara logis dan urut, dan menemukan kata yang tepat untuk mengkomunikasikan pemikirannya. Benefit lain tentu saja bukan hanya dari aspek akademis, tetapi juga meningkatkan kedekatan hubungan orang tua anak, membuat anak merasa dipedulikan dan dihargai.
  2. Diskusi yang lebih kompleks pada usia belasan, meskipun tidak sekuat efek dari kebiasaan membacakan cerita, tetap menunjukkan hubungan yang signifikan dengan reading skill sang anak. Diskusi ini meliputi misalnya diskusi tentang buku, film, televisi, musik, budaya, bahkan sosial maupun politik. Kegiatan seperti ini memacu kesadaran (awareness) tentang stategi belajar efektif, dalam hal ini bagaimana menyimpulkan informasi yang didapat dari lingkungan.
  3. Langsung atau tidak langsung, anak selalu melihat orang tua sebagai role model. Salah satu contoh yang ditemukan dalam riset PISA adalah, anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya menikmati membaca di rumah, menunjukkan kemampuan menyimpulkan (summarizing – tidak hanya teks tetapi juga situasi) yang lebih baik dibanding anak dari keluarga yang orang tuanya tidak menunjukkan hal serupa. Secara umum, adalah penting bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa mereka memberi ‘value’ pada “intellectually engaging activities” seperti membaca. Hal ini misalnya tidak hanya dengan membaca di rumah, tetapi juga pergi bersama ke toko buku atau perpustakaan (ya meskipun untuk kasus Indonesia mungkin hanya toko buku yang memungkinkan). Selain itu, mendiskukan apa yang dibaca juga merupakan satu nilai tambah.
  4. Hal yang penting dalam melaksanakan hal-hal di atas adalah ketertarikan yang tulus (genuine interest) dari orang tua untuk melakukan hal tersebut. Kemudian, hal ini juga berlaku untuk kedua orang tua, tidak hanya salah satu pihak.

Kemudian, PISA juga menekankan pentingnya kerjasama antara orang tua dan sekolah. Orang tua adalah guru pertama, dilanjutkan dengan guru di sekolah, dan di posisi ketiga adalah lingkungan. Pada banyak kasus, orang tua dan pihak sekolah bertemu hanya jika ada masalah. Sekolah memanggil orang tua ketika murid bermasalah di sekolah, atau orang tua mendatangi sekolah ketika anaknya mengalami kesulitan di sekolah. Saya sendiri pernah mendengar keluhan dari guru mengenai sulitnya mengundang orang tua untuk datang ke sekolah misalnya saat sosialisasi tata tertib. Orang tua, misalnya, datang hanya ketika anaknya dihukum akibat melanggar aturan, untuk  ’komplain’. PISA menyarankan agar orang tua lebih banyak terlibat dengan pihak sekolah misalnya dalam kegiatan volunteering, dsb. Hal ini penting untuk membangun relasi orang tua dan guru. Lebih dari itu, menurut saya adalah juga penting bagi sekolah dan orang tua untuk memiliki cara pandang yang sama tentang banyak hal. Misalnya saja tentang aturan. Pada beberapa kasus saya temukan, anak melanggar aturan sekolah karena orang tua tidak peduli atau malah ikut-ikutan komplain tentang aturan itu. Anak, yang pada dasarnya sedang belajar dari guru pertama dan kedua mereka itu, jadi bingung karena hal yang diajarkan berbeda, yang akhirnya tentu saja mengikuti ajaran ‘guru pertama’ yakni orang tua.

Saya yakin banyak orang setuju bahwa pendidikan bukanlah jasa yang dibeli dari sekolah. Pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak, khususnya orang tua.

Semoga bermanfaat.